Penikmat kopi dan obat maag.

Serunya Kisah Cinta Mahesh dan Sarah (Request)

Rafsablog.id – Halo pembaca setia, di artikel kali ini saya akan membagikan sebuah cerita dongeng buat pacar sebelum tidur tentang serunya kisah cinta antara Mahesh dan Sarah yang mereka jalani saat masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Cerpen ini adalah request pembaca setia Rafsablog yang menggunakan nama Sarah Zoantharia.

Cerita pendek ini bukanlah kisah nyata, melainkan hanyalah cerita fiktif untuk menemani waktu luang kalian atau sebagai dongeng sebelum tidur saja dan bisa dibagikan kepada teman, sahabat, atau pacar tersayang. Cocok sekali dibaca saat malam hari dan ditemani secangkir teh hangat. Kita flashback sebentar, SMP menjadi masa dimana kita mengalami sebuah transisi dari anak-anak menuju remaja.

Biasanya masa-masa SMP tidak luput dari sebuah kisah percintaan ala anak remaja dan dibumbui dengan hal-hal lain tentu saja khas anak remaja. Jika anak yang bucin, di masa SMP ini mungkin waktunya lebih banyak digunakan untuk perbucinan. Kemudian anak yang suka dengan pengakuan, maka anak melakukan apapun demi pengakuan tersebut.

Gelud sana-sini melakukan perkelahian demi sebuah nama, mengikuti perjudian demi tim kesayangan dimana pada saat itu diri sendiri menganggap hal tersebut masih lumrah, mencoba rokok rasa baru dimana anak seumuran SMP masih dilarang merokok, dan kenakalan remaja lainnya yang mungkin pembaca pernah mengalaminya.

Setiap orang pasti mempunyai jalan ceritanya masing-maisng. Baik, di artikel ini kalian akan disuguhkan cerita yang sangat menarik tentang tokoh utama yang bernama Sarah. Diam-diam sarah menyukai Mahesh.. Eitts… Bagi kalian yang sudah tidak sabar lagi silahkan baca cerpennya di bawah ya.


Serunya Kisah Cinta Mahesh dan Sarah

Namaku Sarah, umurku 13 tahun saat pertama kali dekat dengannya. Dia, siswa yang tampan dan tinggi, sudah terkenal sejak masa orientasi di SMP favorit di kota ku. Namanya Mahesh Wara.

Banyak yang langsung mengaguminya saat pertama bertemu, bahkan kakak-kakak kelas pun ingin berkenalan dengannya. Saat pembagian kelas, ternyata aku dan dia berada di satu kelas.

Di kelas itu juga aku berkenalan dengan Diana dan Dewi, dua sahabatku sekarang. Teman-teman perempuan kita sering sekali mendekati Mahesh, tapi dia sangat cuek kepada perempuan. Entah apa yang ada di kepalanya, tapi saat dia bermain dengan teman laki-lakinya dia terlihat akrab dan bersahabat.

“Lu tau gak, tadi pagi ada yang ngasih Mahesh coklat, ada dalam lacinya gitu. Tapi Mahesh malah ngasih coklat itu ke Dodi”. Dewi yang memulai percakapan saat istirahat kedua. Dodi adalah sahabat Mahesh. “Udah ada yang ngasih-ngasih aja. Yakin deh besok-besok pasti bakal banyak lagi. Mereka kan ga mau kalah.”

Diana ikut menanggapi. “Tapi siapa yang ngasih ya? Gue tadi berangkat paling pagi, tapi ga tau kalo ada orang yang naruh coklat di meja dia”. Aku mulai mengingat-ingat. “Ya pasti elu ga tau lah. Elu dateng pertama, trus langsung baca komik kan? Dah deh, kalo baca komik lu ga akan liat-liat sekitar”.

Dewi menimpali. “Gue rasa sih temen sekelas. Kalo anak kelas sebelah bukannya mencolok banget ya?”. “Dah lah, ngapain kita bahas Mahesh sih?.” Pembahasan itu ditutup. Siapapun yang memberikan coklat ke Mahesh, dia telah memulai perang dengan banyak perempuan.

Esok paginya, seperti tebakan Diana makin banyak snack-snack di atas meja Mahesh. Beberapa bernama orang yang meletakkannya, sisanya tidak bernama. Tapi tidak ada satu snack pun yang dimakan Mahesh.

Dia memberikannya pada teman-temannya. “Dia kenapa ga makan apapun dari fansnya sih?” Tanya Diana padaku. “Gatau, takut tu makanan ada ramuan cintanya kalik” Jawabku asal. Jujur saja melihat fans Mahesh yang bisa memberikan snack-snack itu aku sedikit iri. Aku memang menyukai Mahesh tapi aku tidak bisa mengungkapkannya.

Siang itu saat pelajaran Bahasa Indonesia, kami diminta berkelompok. Tanpa diduga aku berkelompok dengan Mahesh, Dodi dan Dewi. Teman-teman yang tidak terima aku sekelompok dengan Mahesh hendak protes, tapi keputusan sudah dibuat oleh Pak Timin (guru Bahasa Indonesia).

Dari situlah kami membuat grup untuk mendiskusikan tugas kelompok. “Wi, gimana nih. Kita sekelompok sama Mahesh. Pasti banyak yang ga suka”. “Ngapain dipikirin si Sar, kan Pak Timin yang bagi. Bukan kita minta sendiri”.

“Eh Dewi Sarah, besok kan libur kita kumpul di rumah Mahesh ya. Ntar bakal dikirim lokasi sama Mahesh. Jam 8 ya”. Dodi memberi briefing sebentar sebelum pulang. Sementara Mahesh menunggu Dodi di pintu kelas. “Oke Dod. Thank you ya”. Dewi yang menanggapi. Sementara aku hanya mengangguk- ngangguk.

Malam harinya di grup, Mahesh mengirimkan alamat rumahnya. “Ingat ya jam 8 udah sampe rumah Mahesh. Males we nungguin kalian cewek-cewek rempong” tulis Dodi di grup. “Sialan Dod, mana ada cewek-cewek rempong”. Dewi menanggapi ketikan Dodi. Aku dan Mahesh hanya diam-diam saja, malas menanggapi.

Besoknya, Dewi menjemputku untuk kerumah Mahesh. “Yuk Sar, ntar Dodi sama Mahesh marah-marah”. Aku langsung naik ke atas motor Dewi, menjalankan maps di handphone ku untuk menuju ke rumah Mahesh. 10 menit berlalu, kami sampai dirumah Mahesh.

Rumahnya besar berlantai 2, halamannya luas dan berpagar tinggi. Di Sebelah halaman ada kolam ikan kecil dengan air mancur indah. Dodi dan Mahesh sudah menunggu di samping pintu. Ku lihat belum ada jam 8, masih kurang 10 menit lagi.

Itu berarti aku dan Dewi tidak telat. “Nah akhirnya sampe juga. Yuk masuk”. Dodi yang mengajak kami masuk. Mahesh hanya diam saja, memimpin di depan. Saat masuk ke rumah Mahesh, aku semakin takjub. Rumah itu besar dan bersih. Rumah yang didominasi warna putih dan emas. Banyak pajangan-pajangan disana, juga pohon-pohon kecil di sudut-sudut ruang terasa nyaman.

Kami diarahkan ke teras belakang, menghadap kolam renang. Terdapat meja kecil dan karpet yang nyaman. Cocok untuk berdiskusi mengerjakan tugas. Mahesh lebih banyak diam, hanya sesekali menimpali dan ikut berdiskusi. Saat mataku tidak sengaja menatap matanya, dia langsung membuang muka entah apa yang dia pikirkan.

Selesai mengerjakan tugas aku, Dewi dan Dodi berpamitan dengan Mahesh. Sedari tadi aku tidak melihat orang tua Mahesh dan aku enggan bertanya-tanya. “Kita balik dulu ye..

baek-baek lu di rumah” kata Dodi pada Mahesh. “Iya, kalian hati-hati dijalan ya”. “Okee”. Kami menjawab hampir berbarengan. Sampai didepan rumah Mahesh, Dodi tiba-tiba menghentikan motor Dewi “Tunggu dulu deh Wi. Gue mau ngomong ke Sarah”. “Apaan Dod?” Tanyaku. “Mahesh suka ama elu. Makanya dari tadi dia malu-malu. Makanya dari kemarin-kemarin dia nolak makanan dari fans nya”

Deg, hal itu mengejutkan untukku. Aku? Siswi biasa ini? Kenapa aku? “Serius lo Dod? Tapi Mahesh dari tadi diem aja tuh”. Dewi yang bertanya, ikut penasaran. “Ya buat apa juga gue bo’ong. Tapi ya terserah elu sih mau percaya apa enggak”. Dodi langsung pergi.

Dijalan pulang, aku dan Dewi masih penasaran. Apa benar Mahesh menyukaiku? Kenapa pula aku? “Karena elu suka komik ya Sar? Cowok-cowok kan suka komik juga”. Dewi masih menebak-nebak. “Gatau deh Wi. Mungkin Dodi cuma bercanda deh, sengaja ngerjain aku”. Aku yang meskipun senang namun juga enggan berharap banyak.

Saat pelajaran Bahasa Indonesia, aku, Dewi, Dodi dan Mahesh diminta maju untuk memaparkan hasil diskusi kita. Beberapa teman hanya fokus mengerjai Dodi, sementara teman perempuan fokus pada Mahesh. “Baik apakah ada yang ingin bertanya pada kelompok ini?” Kata Pak Timin saat kelompok kami sudah selesai memaparkan materi.

Kelas langsung gaduh, sebagian besar teman perempuan kami mengacungkan jari berebut untuk bertanya. “Tenang-tenang. Putri, silahkan bertanya” Pak Timin menunjuk Putri. Putri adalah salah satu fans berat Mahesh. Dia cantik, terkenal, kaya dan sempurna.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa Mahesh tidak memilih Putri sebagai pacarnya. Tiba-tiba pikiranku kembali pada perkataan Dodi. “Em saya mau bertanya pada Mahesh.” Ucap Putri ragu-ragu. “Tanya nya tentang materi Put, bukan masalah pribadi.” Kata Alfin yang langsung dibalas tawa teman sekelas. “Saya mau bertanya, dari anggota kelompok kamu mengapa Sarah hanya sedikit menjelaskannya? Apakah dia lebih sedikit bekerja atau dia tidak paham dengan materi ini sehingga lebih banyak diam?”

Pertanyaan Putri nampak sekali dia menjatuhkan ku. Baru saja aku ingin menjawab tapi dicegah oleh Mahesh “Biar aku yang jawab” katanya, “Maaf mbak Putri, kami berempat sudah bekerja sama sebaik mungkin.

Setiap anggota memiliki tugas dan peran masing-masing. Saya rasa mbak Putri yang tidak mengerti. Kami membuka pertanyaan apabila ada materi yang kami jelaskan tapi belum

jelas menurut teman-teman, bukan bertanya hal di luar materi.” Jawab Mahesh mantap. Kelas menjadi riuh, terutama Alfin yang berseru-seru bilang kalau Putri sengaja menyerangku. “Sudah-sudah. Kelompok Mahesh, silahkan duduk” Pak Timin melanjutkan menunjuk kelompok lain untuk maju. “Apaan sih Putri, norak banget.” Bisik Dewi pada ku.

Sejak saat itu, entah kenapa Putri seperti tidak menyukaiku. Berkali-kali dia mencoba mengerjai atau membuatku apes. Misalnya saat pelajaran Olahraga. Kami semua sudah berganti pakaian. Seragam ganti milikku sudah ku letakkan di laci meja.

Begitu selesai olahraga, ku lihat bajuku ada dilantai dan sudah basah. “Itu kerjaannya Putri sama Laras Sar.” Kata Alfin. “Tadi pas gue balik buat ambil uang, belum ada baju lo dilantai. Trus gue papasan ama Putri sama Laras, dia masuk kelas.” Lanjutnya. “Eh jangan nuduh-nuduh ya. Gur balik ke kelas mau ambil minum.” Jawab Putri. “Tapi kok pas pelajaran olahraga tadi gue ga liat elu bawa minum?” Diana menyelidik. “Gue minum di kelas, ditungguin Laras.

Kenapa jadi nuduh gue sih? Mahesh, liat ni gue difitnah.” Putri mendekat pada Mahesh, meminta bantuan. “Udah-udah. Kita ga bisa nuduh Putri gitu aja Fin, Di. Ya udah lah. Gue ga bisa ganti baju. Semoga ga dimarahin guru-guru deh.” Kataku, merapikan baju yang basah lalu ku masukkan dalam plastik. “Awas aja ya Sar, kalo gue dapet bukti Putri yang nyiram seragam elo bakal gue labrak dia. Kebangeten banget sih. Apa coba maunya.” Dewi marah-marah. “Udah Wi, kenyataannya kita ga punya bukti.”

Teman-teman yg lain segera berganti baju. Pelajaran selanjutnya hampir mulai. Tapi Mahesh kembali dari kamar mandi, tidak berganti baju. “Baju gue jatuh tadi pas di kamar mandi, jadi kotor. Gue juga ga ganti.” Katanya saat masuk ke kelas. “Mahesh, kenapa kamu ga ganti baju? Nanti kalo kamu dimarahin guru gimana?” Kata Putri mendekati Mahesh. “Bukan urusan lu.” Jawab Mahesh ketus. Sepanjang hari itu, kami berdua menjadi perhatian

guru-guru yang mengajar. Tapi untungnya semua guru memahami masalah kami dan tidak dihukum atau dimarahi.

Di kelas 2, saat ku pikir sudah tidak sekelas dengan Putri maka aku akan aman ternyata masih ada fans Mahesh lain yang mengerjaiku. Namanya Kinan. Ia sama seperti Putri, fans garis keras Mahesh.

Di kelas 2, aku masih bersama Dewi dan Diana, juga Dodi, Mahesh, Alfin dan beberapa teman sekelas saat kelas 1 dulu. “Oh ini yang namanya Sarah.” Kinan menghampiriku. “Ada masalah lo ama Sarah?” Jawab Dewi ketus. “Bukan urusan elo ya. Ini urusan gue sama Sarah.” Jawabnya pada Dewi dan memandangi ku dari atas ke bawah.

Firasatku sudah tidak enak sejak saat itu. Berbeda dengan Putri yang tidak menyukaiku secara sembunyi-sembunyi, Kinan justru menunjukkannya.

Pernah suatu hari, saat kami diminta mengumpulkan gambar. Kinan dengan sengaja menumpahkan minumnya ke gambarku yang aku taruh diatas meja. Aksi itu diketahui oleh guru Seni Budaya kami.

Sehingga aku hanya diminta membuat gambar lagi dan dikumpulkan esok hari atau saat aku dan Dewi mengambil buku di perpustakaan untuk teman-teman sekelas.

Kinan sengaja menabrakku, hingga buku yang kubawa jatuh dan dia langsung pergi begitu saja, sambil tertawa-tawa. Saat itu dibantu Dewi, aku memungut buku-buku tersebut. “Dia tu kenapa sih Sar? Padahal elu juga ga deketin Mahesh, Mahesh juga ga deketin elu. Pada sinting-sinting amat.” Kata Dewi sambil bersungut-sungut. “Tauk

deh Wi. Gue juga capek sebenernya.” Kata ku sambil membawa lagi buku-buku itu. “Keknya harus lo labrak deh Sar. Pas Putri jahatin elu, lu cuma diem aja kan ? Sekarang saatnya buat ngomong.” Dewi memberi ide. Betul juga apa yang dikatakan Dewi, aku tidak merasa salah apapun dan tidak berhak dikerjai seperti ini.

“Nan, gue mau ngomong.” Kataku menghampiri Kinan saat jam istirahat. “Gue ga peduli ya, terserah elo mau suka sama Mahesh. Gue ga ada hubungan apapun sama Mahesh, so gue minta elo berhenti ngerjain gue.

Gue ga akan ganggu elo sama Mahesh kok.Itu urusan lo sama dia.” Kataku tegas. “Iya Nan, menurut lo dengan lo gangguin Sarah gue bakal suka ama elo? Gak. Justru gue muak ama elo. Jadi stop lo jahatin siapapun demi gue.” Mahesh yang mendengarkan omonganku ikut menimpali. “Oke fine. Tapi Mahesh, gue lakuin ini demi elo ya. Gue minta maaf ya Mahesh kalau kelakuan gue bikin lo muak. Gue ga bermaksud gitu kok.” Kata Kinan.

Bagiku itu cukup, dia sudah mau berhenti menggangguku walaupun permintaan maafnya untuk Mahesh. “Sinting tu orang.” Bisik Diana padaku.

Aku melewati hari-hari damai tanpa diganggu atau dikerjai perempuan manapun. Hingga tak terasa masa-masa sekolah menengah pertama akan selesai. Hari ini adalah hari perpisahan SMP ku. Setelah hari dimana aku melabrak Kinan, tidak banyak yang berubah.

Mahesh tetap cuek dengan semua perempuan yang mendekatinya dan tidak ada tanda-tanda dia mendekatiku. Meskipun aku sering memergoki Mahesh memandangku dari tempat duduknya, (sering sekali mataku bertemu dengan matanya) dia tetap tidak melakukan pendekatan.

Sejak 3 hari yang lalu, sekolah telah menyiapkan perpisahan untuk kami. Mulai dari dekorasi, panggung, penampilan, dan acara-acara lain disiapkan dengan sempurna. Termasuk aku, mempersiapkan kebaya yang akan aku gunakan saat perpisahan, make up ringan juga sepatu dan tas kecil yang senada.

Pagi itu ada pesan masuk di handphoneku. Nomor yang belum aku simpan. “Aku minta waktumu setelah perpisahan. Jangan pulang dulu. Temui aku di kelas kita. Mahesh”. Aku terkejut membaca pesan itu. Aku merasa tidak punya utang apapun pada Mahesh, tapi untuk apa dia meminta untuk bertemu denganku? Cepat-cepat pesan itu ku balas “Oke” lantas ku kirim padanya.

Acara perpisahan sudah usai. Beberapa teman-temanku berfoto bersama, untuk yang terakhir kali. Sebab beberapa dari kami tidak akan bersama lagi. Mengenang masa-masa peralihan dari anak-anak menjadi remaja.

Mengenang begitu banyaknya memori indah bersama. Aku segera menuju kelasku untuk menemui Mahesh. Jujur saja, selama acara aku hanya memikirkan apa yang akan Mahesh sampaikan. Di dalam kelas tampak sepi, berbeda dengan di aula yang masih ramai.

Mahesh ada disana, di mejanya yang paling ujung belakang. “Sarah, gue mau ngomong.” Katanya menyambutku. “Sebenernya gue suka sama elo. Dari pertama kita ketemu, di kelas satu. Apalagi gue tau elo suka komik, gue pengen deketin elo tapi gue takut cewek-cewek yang suka ama gue bakal jahatin elo kayak Putri atau Kinan.

Sorry ya Sar, gue baru berani ngomong sekarang. Saat kita mau pisah. Tapi gue ga bisa mendem ini terus, setidaknya elo tau gue pernah dan masih suka sama elo”.

Lanjutnya. Aku terkejut dan bingung. Aku bahagia saat dia mengakui itu, tapi kenapa disaat kita berpisah? Bukan lagi teman sekelas? “Mau jadi pacar gue ya Sar?” dia pun berlutut di depanku. “Iya mau” jawaban itu langsung keluar begitu saja. Mahesh terkejut, akupun juga.

Hari itu, memang hari kita berpisah di sekolah menengah pertama tapi sekaligus menjadi hari kita bersatu untuk bersama menjalani masa abu-abu. Mahesh tetap menjadi dia yang dulu. Tetap populer dan tetap memiliki banyak fans. Tapi selama 3 tahun dia bisa secuek itu dengan banyak fans nya, aku yakin dia akan tetap begitu. Selama itu dia mencoba melindungiku, aku yakin selamanya dia akan mencoba begitu.

Memiliki Mahesh adalah salah satu hal terindah dalam hidupku. Dia bisa menjadi romantis dan mengasyikkan. Mahesh selalu mengantarku ke sekolah, menjemputku jika sempat dan mengajakku mampir ke toko komik untuk meminjam atau membelinya jika kami suka.

Kami juga sering menghabiskan waktu libur bersama, entah jalan-jalan ketaman, berkumpul dengan Dewi, Diana dan Dodi di rumah Mahesh, atau sekedar pergi ke Mall. Bagiku masa kelam saat aku dikerjai teman-teman SMP dulu telah terbayar saat Mahesh memilih berada disampingku.


Bagaimana menurut kalian dengan cerita di atas? Apakah menyedihkan, membahagiakan, atau cukup seru untuk menemani waktu luang? Mungkin itu dulu artikel kali ini tentang dongeng buat pacar sebelum tidur. Kalian bisa membagikan cerpen ini jika menurut kalian menarik.

Kalian bisa request cerita dongeng lainnya. Jika beruntung, maka cerita tersebut akan diposting di blog ini. Jika Anda mempunyai saran, masukkan, atau ingin menanyakan sesuatu, sialahkan tulis di kolom komentar, ya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar