Di Internet, kau bisa menulis apa saja yang kau mau.

Dongeng Sebelum Tidur Romantis Untuk Pacar

Halo pembaca setia Rafsablog, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sebuah artikel tentang dongeng sebelum tidur romantis untuk pacar yang berjudul Diary of Broken. Dongeng ini menceritakan kisah seorang yang bernama Hayu yang mempunyai kenalan baru.

Kenalan baru tersebut adalah Umbrella Man yang dijuluki langsung oleh Hayu karena pada saat itu mereka belum mengenal satu sama lain. Kisah mereka Cukup menarik untuk sebuah dongeng sebelum tidur yang romantis dan cocok diberikan buat pacar tersayang.

Bagi Anda yang menyukai genre romance mungkin akan sangat menyukai cerita dongeng ini karena membawakan kesan lucu sekaligus romantis yang dipadukan menjadi satu. Jangan lupa baca sampai selesai dongeng sebelum tidur romantis ini karena ceritanya bersambung. Baik langsung saja simak ceritanya di bawah ini.

Rekomendasi

Dongeng Diary Of Broken Glass Sebelum Tidur Romantis


Diary Of Broken Glass Part 1

Chapter#1 — Hayu 1997

Dongeng Sebelum Tidur Romantis Untuk Pacar

Hari itu lagi-lagi hujan.

Hayu baru saja turun dari bis kuning di halte Fakultas Sastra, melirik jam tangannya kuliah Kaiwa akan dimulai 5 menit lagi. Daripada dimarahi Sensei akibat bolos lebih baik menerobos hujan pikirnya. Sambil menutupi kepala dengan tasnya, Hayu berlari. Untunglah jalanan dari halte ke gedung Fakultas Sastra dipagari pohon-pohon besar sehingga air hujan sedikit tertahan dipucuk-pucuk daun.

Saat sedang berlari itu, seseorang tiba –tiba memayunginya.

Sambil terus berlari Hayu berusaha melihat siapa laki-laki yang sudah berbaik hati, tapi wajahnya terhalang tasnya sendiri.

“Nih, payung nya pakai aja buat kamu!”

Tiba di depan Gedung Pusat Studi Jepang, laki-laki itu memberikan payungnya dengan logat yang asing dan dia langsung berlari masuk ke dalam gedung.

“Hei … “

Hayu ingin menanyakan namanya dan kemana dia harus mengembalikan payung, tapi yang bisa Hayu lihat cuma punggung berbalut kemeja kotak berwarna coklat. Dan wangi khas yang ditinggalkan.

Keesokan hari. Café Naomi, selasar Gedung I.

“Aah… akhirnya kelar juga pamfletnya. Minta cap pudek 3 dulu gih biar bisa buru-buru dipasang!”. Hayu nampak sedang ngobrol dengan dua orang temannya di dalam café, ketika beberapa orang mahasiswa BIPA masuk.

Saat salah seorang mahasiswa itu memesan minuman, Hayu langsung melotot. Suara itu. Hayu hafal banget karena seperti sebuah rekaman otomatis, otaknya berkali-kali memutar suara itu.

Melihat Hayu sibuk memperhatikan mahasiswa-mahasiswa asing itu, Mocca teman yang sedang ngobrol dengannya jadi ikutan memperhatikan mereka.

“Yu, lo ngeliatin siapa sih? Norak ih, kayak ga pernah liat cowok bule aja.. apa perlu gue samperin?”.

“Itu Mo, cowok yang gue ceritain kemarin… gue yakin, itu suaranya”

“Astaga Hayu!, Lo mah nyari cowok dari suaranya doang, ya biar kata suaranya bagus kata lo, lha kalo mukanya ancur bijimane?”.

“Pegimane Mo…”

“Iya, bijimane.. ancur kan impian lo? Ditambah lagi lo dari kemarin kayak anjing pelacak, ngendus ngendus bau mulu…”

“Mo, kuping gue kan jarang salah, noh pas kuliah Mia-Sensei aja di lab gue jarang salah… trus, bau cowok itu khas banget, gue belum pernah nyium itu bau..”.

“Bau ketek maksud loh?”.

Hayu langsung menjitak kepala sahabatnya itu.

“Lo bedua itu pada ngomongin apaan sih?” Ruda, teman mereka yang lain akhirnya buka suara, setelah bête juga 5 menit dicuekin.

tak lama, mahasiswa-mahasiswa asing itu keluar, Hayu hanya bisa melongo memperhatikan mereka. Lalu mendadak salah seorang dari mereka menengok kearah Hayu, seraya mengacungkan minumannya sambil mengangguk dan tersenyum.

“Tsugoi! Dia nengok Mo!”

“Jangan-jangan dia kenal sama elo Yu”

Ah mana mungkin, Hayu merasa dirinya bukan orang yang mudah dikenali orang lain.


Bagaimana sudah mulai penasaran dengan cerita dongeng sebelum tidur romantis ini? Jika iya, kuyy lanjut baca sampai selesai.


“Udah yuk ah katanya mau minta cap pudek 3..” Ruda lantas mengajak ketiganya beranjak.

Kegiatan memperhatikan mahasiswa asing yang dicurigai Hayu sebagai si Umbrella Man menjadi rutinitas menarik bagi Hayu.

Pada jam-jam tertentu, Hayu sering menyeret Mocca untuk menemaninya berdiri di spot yang akan dilewati si Umbrella Man.

Setiap jam 10 pagi, dia akan berjalan dari Gedung 1 ke gedung IV.

Jam 12, dia akan melihatnya makan bersama teman-temannya di Café Naomi.

Menjelang jam 2 biasanya dia akan ke Gd. V. Terkadang dia berjalan dengan santai sendiri, terkadang berjalan bersama teman-temannya.

Sesekali Hayu melihatnya sedang membaca buku di Teater Kolam, dibawah rindang pohon Cherry yang memayungi. Dengan raut wajah yang tenang. Hayu akan betah memandanginya dari bangku taman di depan Gd.V.

Sore itu, Hayu baru selesai rapat dengan teman-temannya untuk acara Pekan Sastra. Hujan turun lumayan deras, Hayu kesal sekali.

“Ah urusan lama ini mah …. Mana payung ketinggalan di mobilnya Mocca .”

Setelah berbasa basi dengan teman-temannya, Hayu bergegas turun ke lantai bawah, niatnya mau pinjam payung ke penjaga Kopma yang sudah akrab dengannya.

“Payungnya lagi dipinjem Neng..”, kata si penjaga Kopma.

Ya sudahlah, akhirnya dengan sabar Hayu berdiri di selasar Gedung 1 menunggu hujan reda.

Hayu sudah hampir menggerutu ketika seseorang tiba-tiba berlari kearahnya dan ikut berteduh.

“Kamu..?”

Orang itu adalah si Umbrella Man!. Sebuah keberuntungan dari langit.

“Hai.. “

Mendadak Hayu merasa sekujur badannya kaku. Antara gugup dan senang.

“Kamu kok berteduh disini?, payungnya kemana?”

Si Umbrella Man bertanya dengan bahasa Indonesia yang lancar tetapi logatnya asing.

Wah, ternyata benar dia adalah orang yang waktu itu meminjamkan payung, dan dia mengenal Hayu!

Detik selanjutnya mereka mengobrol dengan suasana yang canggung. Hayu berdoa semoga hujan jangan berhenti. Wangi tanah tersiram hujan bercampur dengan wangi khas Umbrella Man membuat Hayu ingin pingsan saja.

Esoknya, Hayu dan Mocca sedang belajar di perpustakaan Gedung VII.

“Whatt?, jadi dia beneran si Umbrella Man?”, Mocca hampir loncat ketika Hayu memberitahunya tentang kejadian di sore hujan itu. Beberapa mahasiswa yang juga sedang belajar menoleh ke arah mereka.

Hayu memberi kode agar Mocca jangan berisik. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Hayu menoleh dan melihat Umbrella Man. Ia memberikan secarik kertas.

“Hai… tolong tuliskan nomor telepon atau pager kamu. Ummm, is it possible if we have breakfast together tomorrow?”. Masih dengan wajah melongo, Hayu mengangguk.

Setengah tak percaya, Hayu menuliskan nomor pagernya.

“oke, ini nomor pager dan email aku. Sampai ketemu besok ya..”.

Setelah dia pergi, Hayu meraih catatan kecil bertuliskan Shige dan beberapa digit nomor pager.

Hampir tak percaya, Mocca dan Hayu saling berpandangan.

“Mo… dia ngajakin gue ngapain katanya..?”

“Breakfast katanya Yu..”

“Gila..pagi amat Mo?”

“Ya mana gue tau..breakfast katanya Yu, ya kali breakfast malam-malam?”

Biip. Pager Hayu bunyi, sebaris kalimat tertera disana.

“Besok jam 8 di café PSJ, can we meet?”

Hayu girang bukan main.

“Yu, tar malem lo bisa tidur kan?”

Entahlah….

Pagi itu, Hayu sudah mempersiapkan diri, lahir dan batin, untuk bertemu Shige, Umbrella Man-nya. Untunglah kelas pertamanya dimulai jam 10, setidaknya dia tidak harus bertemu dengan Shige terburu-buru.

Duh, ternyata Shige sudah datang duluan. Dan tampilannya hari ini bikin Hayu meleleh banget. Kemeja biru langitnya pas banget dipadu kaus putih dan jeans. Dan wangi nya…. Ga bakal Hayu lupain deh. Lain kali dia harus nanya merk parfum cowok ini, kok bisa enak banget gitu wanginya.

Shige berdiri menyambut Hayu dan menarik kursi untuknya. Karena masih pagi, hanya ada beberapa dosen dan mahasiswa asing yang sedang sarapan di Café PSJ yang menghadap ke Danau kampus.

“Maaf ya, aku ngajak ketemu nya pagi-pagi..”

“hehe, gak apa-apa.. kebetulan aku jadi ke kampus lebih cepat”.

“silahkan, mau pesan apa..”

Diawali obrolan basa basi yang formal, ternyata lama-lama obrolan mereka jadi lebih santai. Shige adalah mahasiswa dari Jepang, dia mengikuti sang Ayah yang seorang diplomat dan sedang ditugaskan di Indonesia.

Berikutnya, mereka jadi sering bertemu untuk makan siang atau sekedar membaca buku sama-sama di perpustakaan. Shige banyak mengajari Hayu berbahasa Jepang, begitupula sebaliknya, Hayu mengajari Shige berbahasa Indonesia yang lebih santai.

Kuliah jam kedua, dosen yang seharusnya mengajar tidak hadir. Mocca langsung menghampiri Hayu, “Ke Kansas yuk!”

Hayu mengikuti ajakan sahabatnya itu. Di perjalanan ke Kansas, mereka melewati café Naomi. Tiba-tiba Mocca mengajak Hayu putar balik.

“Ga jadi Yu, ke Kopma aja yuk..!”

“Apa sih, gue haus Mo, pengen es teh nya kang Iwan”

Mocca terus menarik tangan Hayu, tapi pandangan Hayu malah jadi tertuju ke Café Naomi dan disana ia melihat Shige.

Bersama seorang gadis. Mahasiswi asing. Mereka nampak sedang mengobrol dengan serius. Gadis itu memegang tangan Shige.

Hayu merasa kaget dan agak sedih, galau gitu deh. Tapi dia berpura-pura tidak merasa apapun lalu dengan santai berjalan melewati café. Dengan ujung matanya, dia melirik ke arah Shige dan bergegas berlalu.

“Lo gak apa-apa, Yu?”, Tanya Mocca dengan khawatir.

Hayu menyeruput es teh nya pelan.

“Emang kenapa, Mo?”

“Shige Yu…”

“Ya, kenapa Shige?”

“Lo ga kesel dia pegangan tangan sama cewek lain yang cuantik, manis dan bule itu?”

Yaelah Mocca….dia ada di pihak siapa sih?.

“Emang Shige itu siapanya gue coba?, kenapa gue kudu kesel..”

“Yakin lo? Ga kesel? Ga jealous?”

“Enggggaaaa… Bang Iwaaaaan Ganas nya satuuuuuu!”

Alih-alih memperdulikan perkataan Mocca, Hayu malah memesan menu favoritnya. Ganas.

Pekan Sastra sebentar lagi dimulai dan Hayu disibukkan dengan persiapan kegiatan jurusannya. Tidak ada kabar lagi dari Shige. Isi pagernya hanya pesan-pesan dari teman-temannya atau panitia acara saja.

Besok jurusannya akan mementaskan sebuah drama sebagai bagian dari kegiatan Pekan Sastra. Hayu dan teman-temannya pun sibuk dengan persiapan property hingga gladi bersih.


Jika Anda sedang mencari kumpulan dongeng romantis yang ingin Anda berikan kepada pacar tersayang sebelum tidur, maka silahkan buka situs Rafsablog ya, kawan.


Hingga jam 10 malam, Hayu masih berada di ruang teater gedung 1, memasang properti. Tiba-tiba dia tersadar, ah kereta terakhir sudah lewat. Terpaksa dia harus pulang naik angkot.

Biipp. Mendadak pagernya berbunyi.

“Kalau sudah selesai, ketemu di Teater Kolam”. Shige.

Jam sudah menunjukan pukul 11 ketika tugasnya memasang properti panggung akhirnya selesai. Ketika melangkah keluar gedung, ia melihat Shige masih menunggunya.

“Kok tau aku lagi disini?” Tanya Hayu.

“Tanya ke Mocca..”. Shige menjawab datar. Hayu mengangguk-anggukan kepala saja.

“udah makan? Makan dulu yuk..”.

Hayu menolak dengan halus. “Udah malem, angkot kerumahku bisa-bisa udah ga ada..”.

Shige tersenyum.”Tenang, aku antar .. asal temani aku makan dulu..”.

Dongeng Sebelum Tidur Romantis Untuk Pacar

Setelah berdebat sejenak, akhirnya Hayu menurut. Toh dia juga bingung mau pulang naik apa jam segitu.

Hayu mampir sebentar di telepon umum untuk mengabari orangtuanya kalau dia akan pulang sangat sangat telat.

Diperjalanan, Hayu lebih banyak diam dan memandang lurus ke depan sementara Shige juga menyetir dengan serius. Suasana sungguh tidak nyaman.

“Kok diam terus Yu, biasanya kamu cerewet sekali”

Hayu mendelik “Jadi selama  ini dia berpikir aku cerewet?”.

“Maaf, kemarin aku pulang. Dua minggu disana. Ga bisa mengabari karena buru-buru banget”.

“Ya ngapain ngabarin aku..”, jawab Hayu dengan ketus. Tapi hatinya sedikit melega, ternyata Shige hilang dari radarnya karena pulang ke Jepang.

Shige meliriknya dan tersenyum kecil.

“Aku bawa oleh-oleh lho ….”, Dia melirik sambil tersenyum

Hayu pura-pura cuek, padahal hatinya sedikit gembira dan penasaran hadiah apa yang dibawa Shige untuknya.

“Gak mau? Ya sudah…”

“Aku pulang ke Jepang mengantar adik sepupuku, ada sedikit masalah keluarga dan dia ga berani menghadapi sendiri. Karena aku yang paling dekat dengannya, yaaah dia minta tolong aku deh.”

“Owh gitu..” Kirain jalan-jalan sama cewek bule, ucap Hayu dalam hati.

Seperti dapat mendengar kata hati Hayu, Shige melanjutkan kalimatnya.

“Waktu itu kamu sudah lihat adik sepupuku itu kok, di Naomi Café… cantik ya?, aku panggil-panggil kamu malah kabur ….padahal mau aku kenalin..”

Hayu langsung menoleh…

“Itu adik sepupu kamu? …. Kirain…”

Hayu langsung diam dengan wajah merah. Ah tapi seketika hatinya meleleh. Syukurlah ….

Kok syukurlah …..

Perjalanan Depok-Bogor itupun akhirnya terlewati dengan mulus separuh jalan. Suasana kaku mencair dan mereka berdua bisa tertawa kembali.

Akankah Hayu mendapatkan pengakuan cinta dari Shige?, simak di bagian berikutnya SHIGE 1997 ya.


Galeri Kata :

Sensei           : Dosen

Kaiwa             : Percakapan

BIPA               : Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing

Kansas          : Kantin Sastra

Ganas             : gado-gado nasi

Pager             : alat komunikasi yang umum saat itu selain telepon umum koin dan kartu

Bis kuning     : transportasi khusus di lingkungan kampus UI


Mungkin itu dulu artikel kali ini tentang dongeng romantis sebelum tidur untuk sahabat, teman, atau pacar tersayang. Cerita di atas masih ada lanjutannya loh. Tunggu kelanjutannya ya, kawan. Semoga dapat mengisi waktu luang Anda.

Satu pemikiran pada “Dongeng Sebelum Tidur Romantis Untuk Pacar”

Tinggalkan komentar