Di Internet, kau bisa menulis apa saja yang kau mau.

Cerpen Romantis Rendi dan Sisi (Request)

Halo jika di artikel sebelumnya Rafsablog sudah membahas dongeng tidur untuk pacar tentang indahnya hubungan Rival dan Salsa, maka di artikel kali ini akan berbagi dongeng atau cerpen romantis antara Rendi dan Sisi.

Dongeng merupakan cerita fiksi yang dibuat untuk menghibur seseorang atau untuk memberitahu maksud tertentu di balik cerita tersebut. Ada dongeng anak-anak ada dongeng sebelum tidur, ada dongeng cerita rakyat, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di artikel ini saya akan membagikan dongeng tidur untuk pacar tentang romantis dan keseruan hubungan Rendi dan Sisi. Mereka berdua adalah tetangga dekat yang lama mempunyai perasaan satu sama lain, tetapi terkendala dengan adanya permusuhan antara keluarga Rendi dan Sisi.

Sebelumnya jangan lupa ikuti terus artikel Rafsablog, jika Anda ingin request artikel, Anda bisa menuliskannya di kolom komentar.


Dongeng Tidur Untuk Pacar Tentang Rendi dan Sisi (Request)

Berikut adalah cerita pendek hubungan antara Rendi dan Sisi request dari pembaca setia Rafsablog.

Rendi dan Sisi sudah berteman sejak kecil. Keluarga Rendi pindah tepat ke sebelah rumah Sisi saat mereka masih duduk di bangku TK. Sebenarnya Rendi berteman dengan Zaki, kakak kembar Sisi. Namun Sisi selalu mengikuti kemanapun mereka pergi walau Zaki sering kesal dibuatnya.

Jangan bayangkan bahwa mereka memiliki hubungan yang harmonis. Tidak sama sekali. Sejak pertama kali bertetangga sudah terjadi perang dunia diantara keluarga Rendi dan Sisi. Usut punya usut, semua dikarenakan hubungan yang sangat buruk di masa lalu. Ternyata orang tua mereka sudah bermusuhan sejak masih di bangku SMA.

Mereka bertiga harus main petak umpet jika ingin main bersama.  Dan kalau sampai ketahuan, siap-siap merasakan gebukan sapu di beberapa bagian tubuh.

Bertahun-tahun berlalu mereka sudah tumbuh dewasa.  Sisi sudah menjelma menjadi gadis cantik dengan banyak penggemar. Begitu pula dengan Rendi dan Zaki. Rendi dan Sisi kebetulan kuliah di Universitas yang sama, namun Zaki memilih untuk melanjutkan pendidikan militer di luar kota.

Pagi itu, Rendi baru saja keluar rumah mau membuang sampah ketika ia melihat Sisi yang juga sedang membuang sampah. Rendi mendekati Sisi yang sedang memilah sampah, tinggal selangkah lagi mendadak terdengar suara mamanya Sisi berteriak lantang.

“Sisiiiiii! Buruan masuk!”

Rendi buru-buru meninggalkan Sisi yang dengan muka panik memberi kode telepon ke arahnya.

“Iya, Ma!!”

Sesampainya di dalam rumah, Sisi langsung di jewer sang mama.

“Besok-besok, ga usah belaga mau bantuin buang sampah ya! biar si Bibi aja yang buang. Kamu mah cari kesempatan aja, naksir ya sama anak sebelah??!”, mama nyerocos dengan mata melotot ke arah Sisi. Sementara Sisi berusaha melepaskan diri dengan wajah kesakitan.

“Aduuh, Mama apaan sih?! Siapa juga yang naksir sama anak culun ituuuu!?”

“Awas ya! berani naksir anak tetangga, Mama kirim kamu ke rumah oma di Belanda sana!”

Akhirnya Sisi berhasil melepaskan diri dari jeweran sang Mama dan langsung berlari masuk ke kamar. Ia langsung meraih HP nya dan membuka WA.

Rendi sudah mengirim WA duluan.

“Lo diapain Sis sama Bunda Ratu??”

Sisi terpingkal-pingkal. Rendi selalu menyebut mamanya Sisi sebagai Bunda Ratu, dan Sisi memanggil mamanya Rendi sebagai Ibu Negara.

“Gue dijewer sampe perih nih sama nyokap! Lo sendiri gimana?, Ibu Negara tau gak?”

“Untungnya nyokap gue masih asik nonton sinetron, lagi termehek-mehek di amah …”

Akhirnya obrolan panjang diantara mereka hanya bisa berlanjut lewat WA saja.

Di kantin kampus, Rendi langsung duduk di sebelah Sisi yang sedang makan baso.

“lo masih ada kuliah ga ?”, Rendi bertanya sambil mencomot satu bakso dengan garpu dan langsung memuntahkannya.

“Gila Sis!! Pedes amaat, mulut lo kayak mulut naga aja doyan makan api …”

Sisi langsung melotot dan memberikan gelas minumnya pada Rendi.

“Sukurin…lagian maen asal comot aja baso gue!”

“Laper Sis… nyokap gue ga bikinin sarapan tadi pagi…kejam banget!”

Rendi lalu memesan sepiring mie goreng, menemani Sisi yang masih asyik dengan basonya.

Mereka hanya bisa bebas bercengkrama di kampus, selebihnya terpenjara oleh permusuhan diantara orangtua mereka.

“Pulang kuliah maen dulu yuk!”, ajak Rendi.

“Maunya sih Ren, tapi lo kan tau nyokap gue pasang CCTV dimana-mana..”. Sisi menghela nafas. Seandainya mamanya ga terlalu mengekang hubungannya dengan Rendi, mungkin sejak dulu mereka pacaran. Sisi merasa banyak banget kecocokan di antara mereka.

Satu-satunya ketidakcocokan mereka hanyalah orangtua yang selalu berseteru.

“Sampe kapan ya ortu kita bakal berantem terus kayak gini.”

Sisi tiba-tiba teringat sesuatu..

“Lo tau gak sih penyebab orang tua kita musuhan gitu?”

Rendi berpikir sejenak, “Gue gak tau…kira-kira apa ya..”

“Kalau kita bisa tau apa penyebab mereka musuhan, barangkali kita bisa cari cara supaya mereka baikan lagi..”.

Rendi mengangguk-angguk, “Bener juga, bagus ide lo”.

Tapi menginterogasi orangtua mereka tentang penyebab permusuhan itu bukannlah hal yang mudah. Setiap kali menyinggung tentang tetangga sebelah, mereka harus siap-siap menanggung resiko benda melayang atau jeweran di kuping.

Saat bertemu lagi di kampus, Rendi menyatakan hampir menyerah mencari tahu kenapa orangtua mereka bermusuhan.

“gue gak sanggup lagi deh dijewerin terus sama nyokap gue..belum lagi bokap yang ngancem mau ngambil kartu ATM dan kunci motor gue!”

“mending lo mah…nih gue diancem mau dikirim ke rumah Oma di Belanda! Pake mo dijodohin pula sama orang bule disono!”

Mereka berdua mati kutu.

Rendi meraih tangan Sisi dan memegangnya erat. Kali ini Sisi jadi gelagapan. Mereka sudah sering bersentuhan sejak kecil, tapi lama lama seiring dengan bertambah usia, rasa risih sering melanda saat kulit mereka beradu.

“Sis, lo jangan kemana-mana ya. kalau Bunda Ratu ngancem mau ngirim lo Belanda, lo jangan ngelawan biar dia berubah pikiran..”

“iya Ren, tapi gue tetep penasaran apa alasan mereka sampe musuhan kayak sekarang..”. Rendi seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ikut gue yuk!”

Rendi langsung menarik tangan Sisi menuju ke parkiran. Sisi menolak ajakan Rendi untuk naik ke motornya, tapi Rendi berkeras. Rendi mengajak Sisi ke pantai.

Pantai yang luas dan indah seperti sedang menunggu siapa saja yang ingin melepaskan semua perasaan disana.

Turun dari motor, Sisi langsung berlarian di pasir seperti anak kecil. Sudah sangat lama sejak orangtuanya mengajak ia bermain pasir di pantai. Rendi memandangi tingkah Sisi dari jauh sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala.

Dulu Sisi adalah anak perempuan yang sangat cengeng dan manja. Ia selalu menempel pada Zaki dan Rendi sangat kesal dibuatnya. Kini, Sisi sudah jauh berubah. Rendi malah kangen dengan sifat manja dan cengeng Sisi, karena sejak mereka beranjak remaja Sisi berubah jadi sangat mandiri.

Mendadak Rendi memeluk Sisi dari belakang, Sisi yang tidak siap dengan pelukan Rendi merasa jantungnya seperti mau meledak. Sejak kecil ia menyukai Rendi yang walaupun sering galak padanya, tapi ia sering membela Sisi dari gangguan anak-anak lainnya.

Ah..seandainya orangtua mereka akur seperti tetangga lainnya.

“Jadi pacar gue ya Sis..”, begitulah Rendi berbisik sambil memeluk Sisi.

Sisi terdiam. Sudut matanya terasa panas.

“Ren.. serius lo?”

Rendi melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Sisi menghadap ke arahnya.

“Gue serius banget, Sis.. gue suka sama elo sejak kita SMA..Cuma gue ga pernah berani bilang apa-apa, karena gue belum punya keberanian..”

“Lo kan tau kita ga mungkin pacaran..”, Sisi berusaha melepaskan tangan Rendi, tapi Rendi tidak mau melepaskannya.

“Kenapa?, orangtua kita?, manusia bisa berubah Sis, gue yakin banget.. kita ga perlu mengakui hubungan kita sekarang sama mereka, kita masih bisa backstreet kan?”

Sisi terdiam. Sisi juga suka sama Rendi, seandainya bukan karena permusuhan orangtuanya, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menerima Rendi. Sisi gak mau, suatu hari Rendi akan terluka karena permusuhan yang terjadi diantara keluarga mereka.

“Jadi pacar gue ya Sis?, gue akan berusaha supaya gue sukses dimasa depan dan keluarga lo bisa nerima gue.. selama lo mau jadi pacar gue Sis..”.

Melihat kesungguhan Rendi, Sisi pun mengangguk dan setetes air mata jatuh dari sudut matanya.

Rendi langsung memeluk Sisi dengan gembira. Bersorak-sorak dengan riang seperti anak kecil. Mereka menghabiskan sore itu dengan saling menatap dan bergandengan tangan.

Hubungan mereka mungkin saja akan menghadapi rintangan yang berat. Tapi, selama masih ada kesempatan untuk bahagia kenapa harus menyerah begitu saja?.

Dongeng Tidur Untuk Pacar Tentang Rendi dan Sisi (Request)

Itulah tadi cerpen cerita pendek dongeng tidur untuk pacar tersayang tentang hubungan Rendi dan Sisi. Menurut Anda bagaimana cerita di atas? Apakah romantis, bikin kesal, ending yang bahagia, menggantung, atau yang lainnya?

Mungkin itu dulu artikel kali ini jika Anda mempunyai saran, masukkan, atau ingin request dongeng lainnya silahkan tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar