Di Internet, kau bisa menulis apa saja yang kau mau.

Dongeng Bucin Darman dan Wawa (Request)

Halo pembaca setia Rafsablog, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sebuah dongeng sebelum tidur romantis untuk semua pengunjung blog ini. Sebelumnya saya sudah berbagi Dongeng Sebelum Tidur Buat Gebetan atau Pacar Tersayang.

Kemudian pada postingan ini saya akan mengabulkan request dari salah satu pembaca setia Rafsablog, sebut saja Darman. Cocok sekali karena penulis juga ada list dongeng tentang bucin dan cocok sekali untuk cerita dongeng sebelum tidur romantis yang diberikan untuk pacar tersayang.

Anda bisa membagikan cerita dongeng ini untuk sahabat, gebetan, atau pacar tersayang sebelum tidur agar hubungan kalian menjadi tambah harmonis romantis dan pasangan menjadi lebih sayang dengan Anda. Dongeng ini juga bisa dibagikan di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp, atau di grup lain yang anggotanya banyak.

Namun, sebelumnya saya ingatkan sekali lagi agar terus mengikuti artikel Rafsablog agar terus mendapatkan bahan bacaan yang menarik.

Rekomendasi

Dongeng Bucin Sebelum Tidur Romantis Cerita Darman dan Wawa

Baik, berikut cerita menarik tentang hubungan bucin antara Darman dan Wawa. Semoga cerita ini menarik untuk Anda pembaca, selamat menikmati.

Simpan Dongeng

Jika Anda ingin menyimpan file dongeng ini di perangkat secara offline, Anda bisa download dengan cara menekan tombol di bawah ini.

Sebelum download, Anda juga bisa membaca cerita lengkapnya seperti berikut:


Dongeng Bucin Darman dan Wawa

Beberapa orang menganggap cinta itu segalanya, rela jadi budak cinta asalkan pasangannya bahagia. Tapi sebagian orang juga menganggap bahwa cinta itu gak penting, tidak sepenting karir atau pendidikan.

Darman, adalah seorang mahasiswa semester akhir di Fakultas Ekonomi sebuah kampus bergengsi di Jakarta. Baginya, mengejar  gelar Sarjana sesuai target lalu meneruskan bisnis keluarganya adalah tujuan utama hidupnya. Baginya, tidak ada pilihan lain dalam hidup selain mengejar karir yang sudah dipersiapkan oleh orangtuanya.

Tahun ini, mahasiwa baru di kampus Darman tidak sebanyak angkatan sebelumnya. Meskipun Darman tidak pernah tertarik untuk terlibat dalam kegiatan kampus, namun sebagai asisten dosen setidaknya dia tahu berapa banyak mahasiwa baru yang hadir setiap tahunnya.

“oops, maaf!”

Seorang gadis tak sengaja menabrak Darman di depan kasir saat Darman baru saja selesai membayar minumannya. Alhasil Iced Coffee yang baru saja dibelinya pun tumpah. Darman sudah hampir meneriaki gadis itu, tapi wajah lugunya langsung membuat teriakan itu hanya tertahan dileher saja.

“Duh, maaf Kak… bi biar saya ganti yang baru ya..”

“Gak usah, lain kali kalo jalan hati-hati!”

Sambil sedikit ngedumel, Darman bergegas ke Gedung II karena sebentar lagi sesi kuliah nya akan dimulai. Dia harus memberikan kuliah Matematika Ekonomi untuk mahasiswa baru.

Seperti dugaannya, jumlah mahasiwa baru yang masuk tahun ini tidak sebanyak tahun sebelumnya. Kapasitas ruangan Gedung IIA Ruang 211 yang diperuntukan untuk mata kuliah umum biasanya terisi hingga 100 mahasiswa, kali ini hanya terisi kurang dari setengahnya.

Di pintu ia kembali bertabrakan dengan seorang gadis.

“oops, maaf”, lagi-lagi suara itu.

Gadis yang menumpahkan es kopinya di café.

“Kayaknya kamu punya hobi nabrak orang, ya?!”

“Mmaaf kak, hari ini saya ga pakai kacamata yang biasanya…jadi..”

“Ah sudahlah, kamu mahasiswa baru? Cepat duduk sana… kuliah mau dimulai!”

“I..iya kak…maaf”

Gadis itu duduk di deretan kursi paling depan, ukuran badannya memang mungil, lebih cocok jadi anak SMA ketimbang mahasiswa. Seorang pemuda merapikan kursi untuknya, tampaknya mereka sudah saling mengenal.

Usai mengisi kuliah umum, Darman memutuskan untuk pulang ke apartemen nya yang berada di seberang kampus. Hari ini Ia sudah janji akan makan siang bersama Ibunya di sebuah restoran.

“hm, sudah jam 11,sebaiknya aku berangkat sekarang biar Mama ga lama nungguin..”.

Setelah berganti pakaian, Darman meluncur ke Restoran yang sudah sering Ia datangi bersama orangtuanya. Dengan hati-hati ia memarkir mobilnya, namun tiba-tiba sesuatu menabrak bagian belakang mobilnya.

“aawwh….sakit”

Astaga suara itu lagi.

Ketika Darman memeriksa bagian belakang mobil, seseorang sedang memegangi lututnya yang terluka sambil memegangi sepeda. Gadis itu lagi.

Darman bisa gila rasanya.

“Kamu itu hobi banget nabrak ya??”

“Mmaaf kak, eh Pak… saya udah bilang kacamata saya….”

“udah udah udah… bangun dulu,pinggirin sepedanya…kamu ngehalangin yang mau parkir!”

Walaupun kesal, Darman tidak tega juga kalau membiarkan gadis itu bangun dan memarkir sepedanya sendiri. Ia lalu meminta gadis itu menunggu di mobil, seraya mencari parkiran motor dan sepeda yang berada di samping Restoran.

Darman lantas berusaha membantu mengobati luka di lutut gadis itu.

“Kamu ngapain sih, selalu terburu-buru! Udah tau kacamatanya udah ga cocok, jangan dipake! “

“I..Iya Kak, eh Pak”

“Ga usah panggil Pak, ini bukan dikelas, saya anak semester akhir”

“Nih, pake sendiri plesternya buruan… saya lagi buru-buru!”

Selesai mengobati luka gadis itu, Darman buru-buru masuk ke dalam Restoran. Disana udah ada Ibunya yang nampaknya mulai resah menunggu.

Sorry Mom, something came up… am I so late ?”

“hmmm, ga terlalu telat sih Nak, Its OK..Maaf Mama ngajakin makan siang di hari kerja..”

“Mama udah pesan ?”

“Belum, nanti aja… Mama masih nungguin seseorang …katanya tadi udah sampai disini tapi ada trouble di parkiran…”

“seseorang..? emang Mama ngundang siapa lagi? Papa ? Mas Tri ?”

Mamanya melirik nakal.

“Sabaaaar, tunggu aja…”

Beberapa menit kemudian, Darman melihat si gadis tukang nabrak. Dia berjalan ke arah mereka. Darman mengira mungkin gadis itu mau meminta ganti rugi akibat luka di lututnya.

“Ngapain kamu kesini, tadi kan aku sudah ngobatin lutut kamu ?”

Mama nya langsung menepuk tangannya.

“Lhaaa kalian sudah saling kenal ?!, bagus lah… sini duduk Nduk..”

Nah, Darman yang langsung melotot.

“Mam, ngapain ?”

“Lha ini yang Mama tungguin dari tadi….. haduh kalian udah saling kenal ternyata…”

“Iya Tante…maaf telat “, gadis itu menjawab sambil mengangguk sopan, lalu duduk di seberang Darman.

“Ini puterinya sahabat Mama di Solo dulu, namanya Wawa, kabarnya dia kuliah di kampus kamu, jurusan nya sama lho sama kamu,Man…”

Hmmm…. Ternyata begitu. Lantas, buat apa mamanya mengajak mereka makan siang bersama ?.

“Kami berniat menjodohkan kalian berdua”

“WHAAATTT????”

Secara spontan Darman dan Wawa berteriak.

Sejak acara makan siang itu, sebisa mungkin Mamanya selalu meminta Darman menemani Wawa  di kampus meskipun Darman selalu menolak. Sementara Wawa nampaknya tidak keberatan dengan niat kedua orangtua mereka.

Sore itu, mama meminta Darman mengantar Wawa pulang seusai kuliah. Dengan enggan Darman menunggu Wawa di parkiran, dekat sepedanya.

Wawa tinggal di kost-kost an dekat kampus dan selalu bepergian dengan sepeda. Hm, gadis yang cukup sederhana tapi tetap saja tidak menarik dimata Darman.

Tak lama, Wawa datang bersama temannya. Pemuda yang waktu itu Darman lihat dikelas. Mereka menyapa Darman dengan sopan.

“Aku harus nganterin kamu pulang…”

“Wa, kamu akrab sama Pak Darman ?”

Si pemuda nampaknya heran kenapa Darman menunggu mereka.

“owh, kak Darman ini sepupu aku Rey. Kenalin kak, ini temen aku Reo. Panggil aja Rey, dia juga ada dikelas kakak lho..”

“Yap.. aku udah tau… hayo buruan aku masih ada acara, mama nyuruh aku nganterin kamu pulang..”

“pulang? Duh sorry kak, aku sama Rey masih ada kerjaan, nih kita baru mau kesana. Nanti aku deh yang WA tante ngasih tau ya…aku buru-buru nih kak”

Tanpa banyak basa basi, mereka buru-buru berlalu ninggalin Darman yang masih bengong.

Darman cukup penasaran dengan kegiatan Wawa diluar kampus bersama dengan Reo. Beberapa kali ia malah mengikuti mereka diam-diam dari belakang.

Entahlah, setelah beberapa kali Wawa menolak ajakan untuk diantar pulang, Darman jadi merasa penasaran dengan sosok gadis yang dijodohkan dengannya itu. Ternyata Wawa jauh dari gambaran gadis manja yang ada dipikirannya selama ini.

Orang tua Wawa cukup terpandang di Solo sana, mereka memiliki beberapa bisnis makanan dan properti  yang cukup besar. Tidak sulit bagi Wawa untuk hidup sebagai mahasiswa yang manja dengan fasilitas mewah, tapi Wawa memilih kost-kost an sederhana dan bekerja sampingan di sebuah café dekat kampus usai jam kuliah. Kini Wawa tengah menabung untuk membeli kacamata baru nya.

Lama-lama, Darman mulai tertarik dengan kemandirian Wawa. Sayangnya Wawa terus menolak perhatian dari Darman dan malah semakin akrab dengan Reo.

Malam itu, Darman memaksa untuk mengantar Wawa pulang seusai ia bekerja di Café. Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Ia menunggu Wawa dengan sabar di parkiran. Tak lama, Wawa dan Reo keluar menuju parkiran sepeda.

“Wa ….. aku antar pulang, sepeda kamu lipat aja masukin bagasi ya..”

Wawa sudah mau menolak, tapi Darman langsung mengambil sepeda lalu melipatnya dan memasukan ke bagasi.

“Tapi kak …”

“Rey, maaf ya..aku ada yang mau diomongin sama Wawa…”

Reo pun nampak keberatan, tapi dia masih menghargai Darman sebagai asdos nya.

Darman mengajak Wawa ke sebuah café.

“Kakak mau ngomong apa sih..kan bisa chat aja di WA “

“Aku mau ngomong soal perjodohan kita ….”

Wawa nampak sedikit risih. Raut wajahnya berubah.

“ Maaf kak, aku juga ga ngerti kenapa orangtua kita punya pikiran kesana. Aku paham kok, buat kakak karir dan pendidikan itu segalanya…”

“Tapi gini Wa…”

Darman belum selesai bicara, Wawa sudah memotong terus.

“Kak, biar nanti aku yang ngomong ke Mama tentang ini… tenang aja. Aku akan berusaha meyakinkan mereka kalo kita ini ga cocok.”

Darman pun melongo, bukan itu yang dia mau. Dia malah udah bucin banget sama Wawa.

“Aku tahu siapa kakak sejak pertama liat kakak di sesi orientasi Maba. Tapi kakak kayaknya ga pernah punya minat dengan hal lain selain kuliah dan karir. Jadi aku ngerti kok, makanya aku selalu menghindar kalo kakak ngajak pulang bareng.., Aku tahu itu tante yang suruh …”

“Aku sedih sih kak, belum apa-apa,kakak udah menolak aku tanpa kenal dulu siapa aku …tapi ya sudahlah, itu kan hak kakak sendiri..”

“Wa, aku gak …”

“Gak apa-apa kak, sumpah! Lagian aku kan baru mulai kuliah, kayaknya emang aku harus focus belajar dulu..”

“Kalo udah ga ada yang mau diomongin lagi, boleh aku pulang sekarang ?”

Darman kehilangan kata. Wawa beranjak dari kursinya. Darman sebenarnya pengen banget bilang bahwa dia pengen mereka berusaha kenal lebih akrab lagi.

“Tunggu Wa ….”

Darman menarik tangan Wawa.

“Kenapa kita gak berusaha saling mengenal mulai sekarang …”

“Maksud kakak?”

“Ya… Aku pengen mengenal kamu lebih dekat. Aku rasa, Mama ga mungkin salah ngenalin seorang cewek buat anaknya…”

Wawa terpana dan seolah tak percaya. Darman yang selama ini sering mengacuhkannya, yang nampak selalu kesal setiap kali disuruh mengantarnya. Ternyata memiliki sebuah perasaan yang khusus untuknya.

Darman menggenggam erat tangan Wawa, “Jadi sekarang kalau aku pengen nganterin kamu, jangan nolak ya ….”.

Wawa mengangguk sambil tersenyum.

Sedikit bercanda Wawa berkata “Tapi kalau Rey marah gimana..?”

“WAWAAA!!!”

Darman spontan mencubit pipi Wawa.

Sepertinya, arah berpikir Darman tentang Cinta sudah berubah.


Itulah tadi tentang Dongeng Bucin Sebelum Tidur Romantis Cerita Darman dan Wawa yang bisa kalian baca. Bagaimana perasaan Anda setelah membaca dongeng di atas? Apakah sedih, merasa lucu, bahagia, marah, atau yang lain?

Mungkin itu dulu postingan kali ini, jika Anda mempunyai saran, masukkan, pertanyaan, atau Anda ingin request dongeng bisa tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar