Di Internet, kau bisa menulis apa saja yang kau mau.

Dongeng Buat Pacar Tentang Wiranda dan Arif (Request)

Halo kawan, jika di artikel sebelumnya saya sudah berbagi Dongeng Romantis Islami Kisah Taaruf, maka di postingan kali ini saya akan berbagi dongeng buat pacar tersayang tentang Wiranda dan Arif dari request salah satu pembaca setia Rafsablog *hehe.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang saling menyemangati dan selalu ada saat gembira maupun saat dilanda kesusahan. Pacar yang baik adalah pacar yang dapat mengerti kita dan keadaan, tentunya tidak egois. Terkadang musuhan, tapi tidak jarang menjadi teman yang sangat baik dan lucu.

Sesuai dengan judulnya, Dongeng ini adalah request dari salah satu pembaca. sebut saja Awi. Dongeng ini memang dikhususkan buat pacar tersayang. Dongeng ini menceritakan tentang kisah Wiranda dan Arif yang sama-sama satu jurusan.

Berawal dari perkataan Wiranda yang melakukan blacklist teman satu jurusan untuk dijadikan pacar, hingga pada akhirnya perkataan yang ia ucapkan tersebut ia langgar dengan sendirinya. Mungkin Anda sudah penasaran dengan cerita ini, langsung baca aja guys…

Rekomendasi

Dongeng Buat Pacar Tersayang Tentang Wiranda dan Arif

Wiranda dan Arif adalah mahasiswa IAIN Batusangkar yang kebetulan sama satu jurusan. Cerita itu dimulai saat mengadakan kegiatan berpetualang di alam bebas. Baik, baca ceritanya langsung di bawah ini.


Dongeng Buat Pacar Tentang Wiranda dan Arif

Pacaran dengan anak satu jurusan?

Emangnya ga bosen tiap hari ketemu?

Begitulah kira-kira anggapan banyak orang terhadap mereka yang pacaran dengan sesama mahasiswa di satu jurusan.

Wiranda termasuk salah satu dari mereka yang menganggap pacaran dengan teman satu jurusan pasti membosankan. Padahal, banyak teman dan seniornya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN Batusangkar yang ngarep banget bisa jadian sama Wiranda.

“Males banget gak sih ketemu tiap hari, apalagi sekelas? Astaga…”

“Kak Dira yang anak semester 6 itu lho Wi, dia naksir kamu.. kurang apa lagi coba? Ganteng, pinter lagi..!”

“Ih, males tau pacaran sama satu jurusan…ga ada yang aneh”.

Tiba-tiba seseorang nyeletuk.

“Hati-hati jangan bilang kayak gitu, ntar kualat!”

Ternyata teman sekelas mereka, Arif yang mereka kira sedang tidur di mejanya.

“Dih, kirain kamu lagi tidur Rif….nguping aja!”.

“Lagian ngebahas kayak gituan… emang kalo pacaran bisa milih-milih? Suka sama orang bisa milih-milih?”.

Wiranda langsung menjawab,

“Ya bisalah… kenapa gak bisa?, suka sama orang ya kita pilih kayak gimana dulu orangnya, jangan main suka aja…”

Arif tersenyum, seraya meraih ranselnya lalu berkata sambil berlalu keluar kelas.

“Hati-hati sama omongan sendiri… nanti kalau tiba-tiba jadian sama teman sekelas gimana coba?”.

Wiranda melemparkan penghapusnya ke arah Arif. Kok penghapus yang dilempar? Botol gitu yang rada gedean dikit.

“Gak bakaaaal!”

Arif, adalah cowok yang lumayan populer di kampus IAIN Batusangkar. Siapa mahasiswi yang gak kenal cowok satu ini?. Selain pintar, Arif juga gak jelek-jelek amat. Bener gak sih?. Arif termasuk cowok yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, karena itu dia punya teman yang beragam dari berbagai jurusan.

Semester ini, Arif dan Wiranda menjadi teman sekelas. Pernah beberapa kali bekerjasama dalam tugas kelompok namun tidak pernah sedikitpun ada percik cinta diantara mereka. Why??.

Dimata Arif, Wiranda itu cewek yang walaupun cantik tapi cerewet dan terlalu kukuh dengan prinsipnya. Dia malas berdebat disegala hal dengan Wiranda karena malas mendengarkan kecerewetannya.

Sementara di mata Wiranda, walaupun ganteng Arif tetaplah teman satu jurusan, bahkan satu kelas yang tidak boleh masuk dalam daftar gebetan.

Diakhir semester ini, semua sepakat untuk mengakhiri kegiatan dengan petualangan di alam bebas. Sebenarnya Wiranda gak suka dengan hal-hal berbau perkemahan, tapi yah mau gimana lagi semua sudah jadi kesepakatan teman-teman satu jurusannya.

Setelah masa ujian berakhir, mereka pun berangkat menggunakan bus kecil. Di lokasi yang berada di sebuah kaki bukit mereka akan berkemah selama 3 hari 2 malam. Dalam bis, Wiranda memilih duduk di kursi paling belakang yang sepi, rata-rata temannya memilih duduk di bangku tengah agar lebih nyaman. Di sana, Miranda melihat Arif yang sengaja disandingkan duduk dengan Tania oleh panitia.

FYI, Tania ini naksir berat sama Arif dan minta pada panitia untuk mengatur agar dalam bus mereka bisa duduk sebangku. Tentu saja, sepanjang perjalanan ia terus berusaha menarik perhatian Arif dengan manja.

Wiranda hampir lelap tertidur ketika seseorang tiba-tiba duduk disampingnya.

“Lho, Rif ngapain lo pindah kesini…”

Ternyata Arif yang pindah duduk ke sebelah Wiranda, nampak di bangku tengah Tania melihat ke arah mereka dengan wajah manyun.

“Bete, digangguin mulu sama Tania ..”

“Hahaha, cowok aneh.. digangguin cewek cantik kayak Tania kok malah bête…. Lo tau ga sih, cowok mana di kampus kita yang ga suka sama Tania?” kata Wiranda.

“Ada tuh, Gue!”

Arif menunjuk dirinya sendiri. Hal itu bikin Wiranda ketawa.

“Serius Wir, daripada cewek model Tania itu, gue lebih suka cewek yang biasa aja dan apa adanya, kayak elo gitu deh..”. Degg makjlebb, Wiranda mendadak jadi salah tingkah gara-gara candaan Arif.

“Becandaa Wiiiir, elaah sampe merah tuh muka!” Arif tertawa dan Wiranda seketika langsung mencubiti badan Arif. Tania memperhatikan mereka dengan wajah kesal.

Dongeng Buat Pacar Tentang Wiranda dan Arif

Ternyata mendirikan tenda itu ga semudah yang mereka bayangkan. Butuh waktu hingga satu jam lebih hingga akhirnya semua tenda berdiri sempurna dan siap menampung penghuninya yang sudah pada kelelahan. Sore itu Wiranda dan Siska yang bertugas di bagian dapur dan harus menyiapkan makan malam untuk rekan-rekan mereka.

Siska melihat stok air di ember menipis, mereka harus mencuci sayuran dan tentu butuh air yang cukup banyak.

“Duh gimana dong, mana ngambil airnya jauh ….” Siska mengeluh.

“Emang ngambil air dimana Sis?” Tanya Wiranda.

“Di sungai Wir, duh kalo ga buru-buru keburu gelap deh…”.

“Ya udah, gue aja deh Sis yang ambil air, lo siapin bahan yang mau dimasak ya…”

“Sip, thanks ya Wir, hati-hati awas ketemu monyet ganteng…”

Hahaha Siska ada-aja aja.

Bukannya ketemu monyet ganteng, Wiranda malah ketemu Arif yang langsung kepo pas ngeliat Wiranda menenteng 2 ember kosong.

“Hei Wir Lo mau kemana? Nyari sumur?”

Ya kali di gunung ada sumur…

“Nyari air Rif, mo nyuci sayuran airnya abis…”

“Emang lo bisa? Sini deh gue bantuin… gue yakin kalo elo yang gotong tuh ember paling kuat diisi dua gayung doang”. Sembarangan ni cowok, tapi lumayanlah pikir Wiranda daripada capek-capek sendirian.

Sungai yang ada tak jauh dari tempat mereka berkemah airnya sangat jernih, dan nampaknya sungai itu juga lumayan dalam. Ketika akhirnya mereka berdua kembali ke perkemahan, lagi-lagi Tania memperhatikan mereka dengan raut wajah masam dari kejauhan.

Malam itu mereka habiskan dengan berkumpul mengitari api unggun sambil makan malam, sebelum kemudian masuk ke tenda masing-masing.

Esoknya, acara berlanjut dengan aneka permainan yang cukup menghibur. Namun kegiatan mereka harus terhenti karena mendadak gerimis turun dan cuaca menjadi sangat berkabut dan dingin.

Panitia mendapatkan info bahwa hujan besar akan turun dan mereka diminta untuk berpindah ke aula besar yang disediakan oleh pengelola perkemahan, Karena berkemah dibawah cuaca yang ekstrem sangat berbahaya.

Ketika Panitia sedang mendata mahasiswa yang sudah berada di aula, mereka panik karena Wiranda tidak ada diantara mereka.

“Guys, ada yang liat Wiranda gak?, mungkin ketinggalan di belakang?”

“Ya udah kita tunggu aja dulu, kalo dia ketinggalan dibelakang pasti sebentar lagi bakal muncul”, seseorang menyarankan dan semua setuju.

Namun setelah hampir satu jam menunggu, Wiranda belum muncul juga.

Yang muncul malah Arif yang datang bersama salah satu staff pengelola perkemahan yang membawakan selimut dan perlengkapan tidur untuk mereka.

“Apa?? Wiranda ga ada?” Arif nampak sangat kaget. Ia lantas melemparkan selimut yang dipegangnya. “Siapa yang satu kelompok sama Wiranda? Yang satu tenda?” Arif menanyai rekan-rekannya.

“G..Gue Rif…, “ Tania dengan wajah ketakutan muncul dari tengah-tengah teman-temannya. “Ka.. kayaknya Wiranda masih di tenda, pas pengumuman kalo kita diminta pindah kesini, dia lagi tidur…… dan… dan gue ga ngasih tau dia ….” Habis ngomong begitu Tania langsung menangis dengan ketakutan.

Tanpa menunggu lama, Arif langsung bergegas menuju perkemahan sambil menelpon beberapa petugas untuk meminta bantuan. Cuaca sangat tidak bersahabat dan berada di lokasi perkemahan yang berdekatan dengan sungai sangat berbahaya.

Sementara itu, Wiranda tertidur dengan sangat lelap setelah seharian melakukan aktifitas yang melelahkan. Dia terbangun karena merasakan badannya basah. Seketika ia duduk dan ternyata tendanya sudah dipenuhi air. Ia segera membuka tenda dan bergegas keluar, namun diluar sangat gelap dan ia tidak melihat siapapun disana.

Tiba-tiba petir menyambar, membut Wiranda ketakutan setengah mati. Tanpa melihat jalan di depannya ia berlari ke sembarang arah, hingga kakinya terantuk sesuatu dan ia pun terjatuh. Wiranda yang sangat ketakutan menangis dan memanggil teman-temannya.

“Siskaaa…. Taniaaaa…. Kalian pada dimana siiih??!”

Akhirnya dengan susah payah, Wiranda berhasil berlindung di sebuah ceruk batu besar. Ia terduduk disana, melindungi diri dari hujan dan petir. Setelah beberapa waktu berlalu, hujan belum juga reda. Wiranda semakin ketakutan dan putus asa. Tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak-teriak memanggil namanya.

“Wirandaaaa..!!! Wirandaaaa..!! Lo dimanaa?”

Itu suara Arif, Wiranda senang sekali. Ia pun berteriak sekuat-kuatnya agar Arif bisa mendengarnya.

Saking senang, begitu Arif menghampirinya Wiranda langsung memeluk Arif kuat-kuat dan menangis. Bukan apa-apa, dia sangat takut dan kebingungan.

“Kaki lo kenapa, ga bisa jalan?” Tanya Arif, Wiranda hanya bisa mengangguk.

Arif melihat sekeliling mereka, hujan petir masih sangat deras. Tidak mungkin rasanya ia mengajak Wiranda ke tempat yang lebih aman dengan kondisi kakinya seperti itu. Akhirnya mereka duduk berdua disana. Udara benar-benar dingin hingga keduanya menggigil.

“Gue udah ngirim koordinat lokasi kita, insyaAllah sebentar lagi akan ada orang yang bakal datang untuk nyelametin kita …” Arif berkata untuk menenangkan Wiranda.

Wiranda tiba-tiba merasa sangat senang dengan kehadiran Arif. Tapi ia merasa badannya sangat dingin. Tak lama, ia melihat beberapa cahaya didepan dan Arif memanggil-manggil mereka, tapi cahaya itu pelan-pelan pudar dimatanya hingga akhirnya gelap gulita.

Wiranda terbangun di sebuah Rumah Sakit.

Ternyata saat itu dia pingsan. Namun mereka berhasil selamat dan ditolong oleh beberapa petugas rescue dari pengelola perkemahan.

“Wir, Wira… udah bangun?”, suara Tania nampak begitu khawatir. “Syukurlah ….akhirnya lo bangun juga”. Tania memang sangat khawatir dan merasa bersalah. Rasa cemburunya membuat ia begitu jahat membiarkan Wiranda dalam bahaya dan ia sangat menyesalinya.

“Tania……”

“Sebentar ya, gue panggilin Arif, dia kuatir banget..”. Tania nampak bergegas keluar ruangan.

Arif muncul dengan wajah kuatir tapi setelah melihat Wiranda baik-baik saja, ia bernafas lega sekali. Entah sejak kapan, ia begitu mengkhawatirkan seorang Wiranda.

Setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit, akhirnya Wiranda diperbolehkan pulang. Arif dengan senang hati menjemputnya meski Wiranda sudah ngotot mau dijemput ayahnya saja.

Beberapa bulan setelah itu, label anti pacaran dengan teman sejurusan nampaknya harus Wiranda buang. Ternyata benar kata Arif, Wiranda termakan omongan sendiri.

Tapi ya not bad lah… pacaran dengan anak satu jurusan setidaknya membuat Wiranda nyaman karena selalu merasa terlindungi dan tidak perlu khawatir dengan godaan dari luar … ya gak sih?.


Itulah tadi tentang Dongeng Buat Pacar Tersayang Tentang Wiranda dan Arif. Menurut Anda bagaimana cerita di atas? Jangan pernah membuat daftar hitam untuk memilih pacar. Terkadang daftar tersebut justru dilanggar dengan sendirinya.

Mungkin itu dulu postingan kali ini tentang cerita dongeng buat pacar tersayang tercinta. Jika menurut Anda cerita di atas sangatlah menarik, Anda bisa membagikannya kepada teman, gebeta, atau pacar. Jika Anda mempunyai saran, masukkan, atau ingin request dongeng lainnya, silahkan tulis di kolom komentar ya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar